Stasiun Bandung

Jalan-jalan ke Bandung enaknya naik apa ya Sob? Kalau naik bus, pasti pusing dan mual. Naik Pesawat, muahaaalll. Aha, naik kereta aja kali ya. Nggak mahal-mahal amat, tapi juga nggak bikin pusing. Ngobrolin Kereta Api, pasti nggak jauh-jauh dari stasiun. Ya iyalah, Kereta Api kan berhentinya di stasiun.

Kereta api termasuk salah satu transportasi yang jadi favorit masyarakat Indonesia. Ya mungkin dulu belum punya pesawat terbang kali ya, jadinya naik kereta api deh. Kalau kamu pernah ke bandung, kamu pasti tahu yang namanya Stasiun Bandung atau Stasiun Hall (kode: BD). Stasiun Bandung adalah stasiun utama kereta api di Kota Bandung.

KEUNIKAN

Stasiun ini mempunyai ketinggian +709 m dpl. Menjadi batas antara Kelurahan Pasirkaliki dan Kebonjeruk. Stasiun Hall sebelumnya cuma punya satu buah stasiun. Tapi, setelah direnovasi oleh pemerintah Kota Bandung, sekarang Stasiun Hall sekarang terbagi menjadi dua bagian. Tapi tetap jadi satu tempat.

Stasiun Hall sendiri selain terkenal sebagai stasiun kereta api di kota Bandung, ia juga terkenal sebagai terminal angkutan kota. Bukan karena ini sebuah terminal. Tapi karena banyak angkutan yang arahnya menuju ke stasiun ini. Makanya lama-lama masyarakat Bandung menyebutnya “terminal angkot”.
Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984) karangan Haryoto Kunto, disebutkan ide awal pembangunan Stasiun Bandung berkaitan dengan pembukaan perkebunan di Bandung sekitar tahun 1870. Stasiun ini diresmikan pada 17 Mei 1884, ketika masa pemerintahan Bupati Koesoemadilaga.

Pada waktu yang sama juga dibuka jalur kereta Batavia-Bandung melalui Bogor dan Cianjur. Di masa itu, para tuan tanah perkebunan (Preangerplanters) menggunakan jalur kereta api untuk mengirimkan hasil perkebunannya ke Batavia dengan lebih cepat.

Nah, untuk menampung dan menyimpan hasil perkebunan yang akan diangkut dengan kereta, dibangunlah gudang-gudang penimbunan barang di beberapa lokasi dekat Stasiun Bandung. Beberapa lokais itu antara lain di Jalan Cibangkong, Jalan Cikuda-Pateuh, daerah Kosambi, Kiaracondong, Braga, Pasirkaliki, Ciroyom, dan Andir.

Pada tahun 1909, arsitek FJA Cousin memperluas bangunan lama Stasiun Bandung. Salah satunya ditandai dengan hiasan kaca patri pada peron bagian selatan yang bergaya Art Deco. Tahun 1918, stasiun ini menghubungkan Bandung-Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali. Setahun kemudian dibangun lintas Bandung-Citeureup-Majalaya dan pada jalur yang sama dibangun jalur Citeureup-Banjaran-Pengalengan (1921). Lalu, untuk jalur ke perkebunan teh, pada tahun 1918, dibangun jalur Bandung ke Kopo dan kemudian ke Ciwidey (Maret 1921).

LOKASI

Stasiun ini berlokasi di Jalan Kebon Kawung, Bandung.

AKSES

Menuju ke stasiun ini kamu bisa menggunakan angkutan kota di Bandung. Karena stasiun ini merupakan stasiun yang cukup besar, makanya banyak angkutan yang menjadikan stasiun ini menjadi salah stau tempat berhenti.

HARGA TIKET

Free.

AKOMODASI DAN FASILITAS LAINNYA

Di sebelah selatan menjamur para pedagang makanan. Mulai dari rumah makan hingga tukang dagang makanan kecil. Nggak ketinggalan sentra oleh-oleh khas bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *